Wali Kota Semarang Agustina Wayang Kulit di Klenteng Jadi Bukti Guyub Rukun

foto Berita  Wali Kota Semarang Agustina Wayang Kulit di Klenteng Jadi Bukti Guyub Rukun

SEMARANG — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyebut pagelaran wayang kulit di Klenteng Siu Hok Bio menjadi gambaran semangat guyub rukun yang tumbuh dan dirawat masyarakat Kota Semarang sejak lama.

 

Hal tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Wahyu Kamulyan” di Klenteng Siu Hok Bio, Sabtu (27/9) malam. Pagelaran tersebut menjadi penutup rangkaian perayaan Tiong Ciu atau Mooncake Festival 2026 yang berlangsung di kawasan Pecinan Kota Semarang pada 23–27 September dengan tema “Cahaya Harmoni Semarang”.

 

“Ternyata warga kota Semarang memang sudah guyub rukun sejak lama. Dibuktikan dengan adanya pagelaran wayang di Klenteng Siuh Biu ini,” kata Agustina.

 

Menurut Agustina, pagelaran wayang kulit tersebut memiliki keunikan karena diselenggarakan oleh yayasan klenteng sebagai bagian dari rangkaian perayaan Tiong Ciu. Tradisi itu telah berlangsung secara turun-temurun, sempat berhenti pada masa Reformasi 1998 dan pandemi COVID-19, kemudian kembali dilaksanakan.

 

Agustina mengatakan, keterlibatan berbagai pihak dalam Mooncake Festival menjadi contoh bagaimana kegiatan budaya dapat tumbuh melalui komunikasi dan kebersamaan. Ia mengapresiasi panitia serta komunitas yang berkolaborasi menghadirkan berbagai kegiatan seni dan budaya di kawasan Pecinan.

 

“Kuncinya yang pertama yang saya lihat adalah komunikasi. kepada seluruh jajaran, kemudian melayani. Lepas dari seluruh kepentingan, semuanya hanya untuk satu hal. Kota Semarang ini memiliki hiburan yang lebih banyak dan tentu destinasi wisatanya menjadi lebih banyak. Yang lebih terpenting dari itu adalah keterlibatan semua orang,” ujarnya.

 

Menurutnya, agenda seni dan budaya seperti pagelaran wayang juga dapat memperkaya Kota Semarang sebagai kota pariwisata, perdagangan dan jasa. Kehadiran berbagai kegiatan budaya memberikan pengalaman bagi wisatawan yang datang ke Semarang.

 

Pagelaran dengan lakon “Wahyu Kamulyan” sekaligus memperlihatkan perjumpaan tradisi Tionghoa dengan seni budaya Jawa. Agustina menyebut keunikan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Kota Semarang yang dapat dinikmati bersama masyarakat.

 

“Dan ini unik ya, unik, unik banget karena sing duwe gawe itu klenteng, sing ditanggap wayang,” pungkasnya.