SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama jajarannya terus memperkuat penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang. Berdasarkan hasil pemantauan pada Senin (5/10) pukul 01.00 WIB, luas area titik panas menyusut menjadi 0,163 hektare atau 1.630 meter persegi, dari sebelumnya sekitar 2–2,5 hektare. Penurunan tersebut mencapai sekitar 92–93 persen.
"Kami terus memastikan titik panas semakin berkurang dan tidak berkembang menjadi titik api baru. Bara di bawah timbunan juga harus ditangani, sehingga proses pendinginan dilakukan secara bertahap dan terus dipantau kondisi lapangannya," ujar Agustina Wilujeng.
Penanganan difokuskan pada penguraian timbunan sampah dari bagian atas _sanitary landfill_ untuk membuka akses menuju bara di bawah permukaan. Untuk mendukung proses tersebut, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang memasang _trucuk_ bambu sebagai pembatas selama timbunan diurai dan proses pendinginan berlangsung. Petugas juga mengoptimalkan pipa injeksi air yang telah dipasang sejak Minggu (4/10).
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kota Semarang rutin melakukan pengujian kualitas udara di sekitar TPA Jatibarang. Pada Senin (5/10) pagi, pengukuran di SDN Ngaliyan 04 mencatat PM2,5 sebesar 11–18 µg/m³ dan PM10 sebesar 30–45 µg/m³. Sementara itu, di Puskesmas Purwoyoso dan Puskesmas Ngaliyan, PM2,5 tercatat sebesar 36–37 µg/m³ dan PM10 sebesar 66–74 µg/m³.
Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat bervariasi menurut lokasi. Sebagian besar sekolah di wilayah sekitar terdampak terpantau tanpa asap, sedangkan SDN Ngaliyan 04 masih mengalami asap tipis. Pembelajaran tatap muka tetap berlangsung dengan imbauan agar siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengenakan masker selama beraktivitas di lingkungan sekolah.
"Penanganan kebakaran berjalan bersama dengan perlindungan masyarakat. Karena itu, kondisi udara dan lingkungan sekolah terus dipantau agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan," kata Wali Kota Semarang.
“Penanganan kebakaran berjalan bersama dengan perlindungan masyarakat. Karena itu, kondisi udara dan lingkungan sekolah terus dipantau agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan,” kata Agustina.
Hingga hari ini, tim gabungan terus melanjutkan optimalisasi pipa injeksi air, penguraian timbunan sampah di titik-titik krusial, serta pemantauan titik panas secara berkala. Seluruh upaya terintegrasi ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kemunculan titik api baru dan bara di dalam tumpukan sampah dapat dikendalikan secara tuntas.
