Wali Kota Semarang Agustina Revitalisasi Stasiun Tawang Menjaga Identitas Kota Memperkuat Mobilitas dan Menggerakkan Ekonomi Daerah

foto Berita Wali Kota Semarang Agustina Revitalisasi Stasiun Tawang Menjaga Identitas Kota Memperkuat Mobilitas dan Menggerakkan Ekonomi Daerah

Semarang – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyambut baik peresmian Revitalisasi Tahap I Bangunan Cagar Budaya Stasiun Semarang Tawang oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Kamis (30/7). Menurutnya, revitalisasi salah satu ikon Kota Semarang tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur modern dapat berjalan seiring dengan pelestarian sejarah sebagai fondasi kemajuan bangsa.

 

"Stasiun Tawang bukan sekadar simpul transportasi. Ia adalah bagian dari identitas Kota Semarang. Selama lebih dari satu abad, bangunan ini menjadi saksi perjalanan perdagangan, mobilitas masyarakat, hingga perkembangan Semarang sebagai kota pelabuhan dan pusat ekonomi di Pulau Jawa. Karena itu, revitalisasi ini merupakan investasi peradaban yang manfaatnya akan dirasakan lintas generasi," ujar Agustina.

 

Stasiun Semarang Tawang yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada tahun 1911 dan mulai beroperasi pada 1914 merupakan salah satu bangunan cagar budaya terpenting di Kota Semarang. Revitalisasi tahap pertama yang dikerjakan selama 330 hari mencakup penataan fasad, hall utama, sisi barat dan timur bangunan, ruang tunggu, ruang VIP, selasar, hingga perbaikan sistem drainase. Berbagai ornamen dan elemen arsitektur juga dikembalikan mengacu pada dokumentasi lama sehingga karakter asli bangunan tetap terjaga.

 

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa revitalisasi tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas pelayanan transportasi sekaligus menjaga kelestarian bangunan bersejarah. Menurutnya, proses revitalisasi dilakukan dengan mengembalikan fasad, hall utama, sisi barat dan timur, serta berbagai ornamen berdasarkan dokumentasi dan foto-foto lama sehingga bangunan yang telah berusia lebih dari 112 tahun tetap terjaga nilai sejarahnya.

 

Kebutuhan peningkatan fasilitas tersebut juga didukung tingginya mobilitas masyarakat. Sepanjang tahun 2025, Stasiun Semarang Tawang melayani 3.862.127 aktivitas pelanggan, sedangkan pada Semester I Tahun 2026 telah melayani 2.152.894 aktivitas naik dan turun pelanggan, dengan rata-rata 34 perjalanan kereta api setiap hari. Data tersebut semakin mempertegas posisi Stasiun Tawang sebagai salah satu simpul mobilitas terpenting di Jawa Tengah yang berperan besar dalam memperkuat konektivitas wilayah, mendukung pariwisata, dan menggerakkan perekonomian Kota Semarang.

 

Agustina menilai, komitmen PT KAI tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pelayanan publik tidak harus menghilangkan nilai sejarah sebuah bangunan. Sebaliknya, pelestarian warisan budaya justru mampu memberikan nilai tambah bagi kota, baik sebagai daya tarik wisata, ruang edukasi sejarah, maupun pengungkit pertumbuhan ekonomi. 

 

"Bagi Kota Semarang, pesan Presiden tersebut memiliki makna yang sangat relevan. Kemajuan tidak boleh memutus hubungan dengan sejarah. Justru warisan budaya harus menjadi modal untuk membangun kota yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing. Revitalisasi Stasiun Tawang menjadi contoh nyata bahwa pelestarian cagar budaya mampu berjalan berdampingan dengan peningkatan kualitas pelayanan publik," kata Agustina.

 

Ia menambahkan, keberadaan Stasiun Tawang yang berada di pintu masuk Kawasan Kota Lama Semarang memberikan nilai strategis yang tidak dimiliki banyak kota lain. Setiap wisatawan yang datang menggunakan kereta api akan langsung disambut kawasan heritage yang menjadi kebanggaan Kota Semarang. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Semarang akan terus memperkuat integrasi antara Stasiun Tawang dengan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, pusat UMKM, kawasan ekonomi kreatif, serta sistem trans.